Rabu, 26 Oktober 2016

WIRAUSAHA MUDA KEMBANG BIAKKAN KELINCI HINGGA RATUSAN EKOR
Muda dan Usaha adalah dua unsur yang sangat cocok untuk dikombinasikan. Muda bagi saya sangat identik dengan kobaran semangatnya, jiwa mudanya serta lahirnya kreasi dan inovasi baru. Sedangkan jika mendengar kata usaha jadi teringat karya-karyanya  dan keuntungan usahanya. Lahirlah hasil kombinasi tersebut dengan kalimat  “Berwirausaha diusia muda”. Menjalani usaha diusia muda, saya berani mengatakan kalau tidak sulit menjalaninya. Tentunya bagi muda-mudi yang mempunyai semangat tinggi. Kerja keras, fokus dan bersabar adalah salah satu kuncinya. Dengan usia muda sangat mudah untuk memulai sesuatu termasuk berwirausaha. Ini saya buktikan ketika memulai usaha beternak kelinci pada waktu kelas satu SMA. Beternak kelinci salah satu rutinitas saya setelah belajar. Awalnya kepikiran untuk kerja sampingan ditoko atau rumah makan. Maklumlah, untuk anak SMA saya pikir waktu itu memang pantas untuk sekedar menjaga toko atau mencuci piring di rumah makan. Tiba-tiba saya  ingat kata-kata pada sebuah buku “Kalau bisa membangun dan memajukan perusahaan sendiri kenapa harus memajukan perusahaan orang lain?” kalimat itu sangat menyindir saya yang waktu itu masih 16 tahun sekaligus memotivasi diri untuk mencoba berwirausaha. Akhirnya target saya untuk menjadi enterprenur sukses diusia 30-an saya majukan menjadi usia 20-an.



Kelinci hewan yang sangat saya senangi. Awalnya hanya punya sepasang kelinci biasa. Setelah melihat kondisi kampung yang rata-rata masyarakatnya adalah petani, saya kepikiran untuk memanfaatkan sisa-sisa sayuran untuk makanan kelinci. Akhirnya kelinci yang awalnya sepasang, satu ekor betina satu ekor jantan saya beli lagi 5 ekor betina dan satu ekor jantan. Uang beli induk kelincinya sih dari pecahan celengan ayam. Harga 6 induk kelinci waktu itu Rp. 500.000. Uang dicelengan hanya Rp. 300.000. Sisanya minta sama Ibu. Jadilah waktu itu 8 ekor kelinci, 6 ekor  kelinci betina dan 2 ekor kelinci jantan. Untuk kandangnya minta dibuatkan sama Bapak. Satu hari penuh Bapak menyelesaikan 6 kotak kandang untuk sang kelinci. Dengan melihat peluang dan kemauan saya mulai berwirausaha. Keesokan harinya dihidup saya tak hanya ada Ibu dan Bapak tapi satu lagi kelinci (hehe alay).  Satu hal yang terbesit dalam pikiran saya waktu itu, “kenapa kita hanya selalu menjadi pembeli. Karena setiap kita membeli, berarti kita menikmati karya-karya orang lain. Menikmati kreatifitas orang lain. Bukankah kita juga bisa berkarya dan menghasilkan seperti mereka? agar karya kita juga dinikmati”.
Replay lagi ke bahasan kampung saya yang mayoritas petani tadi (termasuk Ibu dan Bapak), saya manfaatkan makanan kelinci dari sisa-sisa panen. Seperti sayuran tua yang tidak dipanen lagi, kecambah  ubi jalar  dan  sisa-sisa kol  yang tidak dipetik petani. Melalui pemanfaatan tersebut tidak perlu keluar modal  untuk beli makanannya. Modalnya cukup untuk membeli induk kelinci dan membuat kandang.
Sepulang sekolah, setelah selesai makan dan shalat saya habiskan waktu unutk merawat kelinci, mulai dari mencari makanannya, membersihkan kandang dan memberi obat serta suntikan supaya kelinci cepat besar dan bertambah sehat.
Ternyata benar, kobaran semangat muda lebih garang. Usaha Muda tampak segar walaupun yang tua belum tentu lapuk. Setengah hari yang saya habiskan untuk merawat kelinci jadi tidak terasa. Mungkin didukung juga dengan fisik yang bugar dan fikiran nan segar. Saya tidak merasa berbisnis tetapi merasa mengembangkan hobi. Karena kegemaran dan kesenangan saya terhadap kelinci. Saya jadi membuktikan pekerjaan yang paling senang adalah mengerjakan hobi. Walaupun ketika berwirausaha pasti ada maju mundur, jatuh bangun dan untung ruginya. Termasuk saya, ketika beternak juga kadang mengalami hambatan seperti ada kelinci yang sakit bahkan ada yang mati. disitulah kesabaran saya diuji Yang Kuasa. “Tapi itulah jiwa muda saya ketika berwirausaha, jatuh sekali bangkit seribu kali. Ketika muda, diinilah kita bisa belajar dan terus mencoba. Ketika jatuh bangkit lagi. Jatuh lagi, kita masih punya stok semangat untuk bangkit lagi. Jika memang kita akan berhasil nantinya diusia tua, setidaknya persiapannya diusia muda. Tapi jika baru memulai usaha diusia tua, kalau belum punya pengalaman dan kepandaian, kapan akan belajarnya dan kapan suksesnya?”  walaupun juga ada usia tua yang mulai belajar bahkan berhasil, setidaknya untuk para pemuda-pemudi berusahalah dan berwirausahalah sekarang.
Dua bulan setelah beternak kelinci, akhirnya anak-anak kelinci yang sangat imut dan lucu bermunculan kemuka bumi (hehe alay lagi). Sebulan setelahnya anak-anaknya sudah bisa dijual dengan harga Rp. 25.000 per ekor. Dari 6 ekor kelinci betina 4 ekor menghasilkan anak yang kalau dijumlahkan sebanyak 19 ekor, satu induk kelinci sakit dan satu ekor lagi sepertinya mandul. Kalau dikalikan, 3 bulan setelah membuat kandang 10  ekor  anak kelinci seharga Rp. 250.000 berhasil dijual. 9 ekor anak kelinci lagi saya jadikan bibit untuk induk kelinci. 2 bulan setelahnya lagi saya berhasil lagi menjual anaknya seharga Rp. 250.000. Lima  bulan setelah pembuatan kandang saya sudah berhasil memulangkan modal. Kalau dalam bahasa ekonominya BEP yaitu break event point (ciee pakai bahasa ekonomi segala). O ya saya lupa cerita kalau sekarang saya kuliah jurusan ekonomi disalah satu perguruan tinggi yang ada dipadang (Universitas Negeri Padang). Akhirnya Uang ibu yang dipinjam Rp. 200.000 dikembalikan lagi.
Kelas 2 SMA saya tidak pernah minta uang lagi kepada orang tua. Malah kadang-kadang saya yang ngasih ibu buat belanja (bukan pamer yaa). Disaat teman-teman yang lain sibuk belajar, organisasi, facebookan, ngegems dan lain-lain saya malah sibuk merawat kelinci dan keladang sambil membawa karung mencari sisa-sisa panen sayuran petani untuk makanan sang kelinci. Saya merasa semua itu bukan beban hanya rutinaitas biasa yang menyenangkan dan tidak membosankan.
Selain mengasah kemampuan dan mendapat pengalaman, bisnis kelinci juga bisa mendapat keuntungan alias uang. Sejak saat itu saya bisa beli buku, tas, sepatu bahkan HP dengan hasil keringat sendiri. Saya bersyukur. Karena ketika sukses berwirausaha, disitulah rasa syukur kita diuji. Sangat banyak pelajaran yang kita ambil melalui wirausaha.
Satu hal lagi yang saya buktikan adalah pintu yang banyak dibukakan untuk rezeki adalah perdagangan. Bahkan junjungan umat islam sekalipun nabi Muhammad SAW dan sahabat juga membuka pintu rezekinya dengan berdagang. Diindonesia bahkan didunia sekalipun, orang terkayanya adalah pengusaha. Lantas, kenapa kita yang jiwa muda belum juga untuk memulainya?
Replay lagi ke bahasan saya mengenai kepandaian melihat peluang. saya ingin menghubungkannya dengan penjual sate ayam yang sering lewat didepan rumah. Loh apa hubungannya melihat peluang dengan penjual sate ayam? Jadi ngini,  penjual sate ayam itu setiap sore sering dinantikan warga disimpang empat dekat polindes yang ada dikampung. Komentar warga terhadap sate ayam itu sangat enak dan maknyus, saya pun mengakuinya. Penjual sate berkeliling setiap sore, banyak warga yang tidak kebagian karena sudah habis sebelum sampai ke depan rumah mereka. Jadi yang kebagian membeli ialah warga yang cepat. Siapa yang cepat ia dapat. Akhirnya warga yang nekat memutuskan untuk antri didepan polindes tempat pertama yang dilalui penjual sate ayam. Berarti sate ayamnya limited kan? Warga mengantri agar kebagian memebeli sate (ini bukan berlebihan guys, satenya memang maknyus bangeeeet).

Disitulah saya melihat peluang. saya  ingin membantu penjual sate untuk memenuhi kebutuhan warga. Namun dengan tawaran yang berbeda yaitu sate kelinci. Selain bahan bakunya dari ternak kelinci sendiri, saya tertarik untuk membuat sate, karena daging kelinci lebih sehat, rendah lemak dan rendah rendah kolesterol dibandingkan daging ayam dan daging sapi.
Ketika warga menjadi pembeli yang baik dan sigap, saya ingin menjadi produsen yang baik dan mampu melihat peluang. karena menurut saya “Jangan hanya jadi pendengar yang baik, tapi jadilah pembicara yang baik. Jangan hanya jadi pembaca yang baik, tapi jadilah penulis yang baik. Jangan hanya jadi pembeli yang baik, tapi jadilah produsen yang baik”. Karena sejatinya pendengar, pembaca dan pembeli hanya penikmat bukan pencipta. Namun ketika kita sudah menjadi pendengar, pembaca dan pembeli disitulah kita bisa mengahargainya. Karena tanpa pendengar tidak akan ada pembicara yang sukses. Tanpa pembaca tidak akan ada penulis yang sukses. Tanpa pembeli tidak akan ada produsen yang sukses (hehe sekedar motivasi guys). 
O ya balik lagi kesate kelincinya, jadi saya merekomendasikan bapak untuk menjual sate kelinci. Singkat cerita Bapak akhirnya menjual sate kelinci dan vacum sementara waktu keladang. Walaupun awalnya sate kelinci Bapak tidak seenak sate ayam yang lewat didepan rumah. Namun setelah beberapa bulan kedepan sate kelinci bapak tidak kalah dengan sate ayam, pelanggannya pun juga sudah bisa dikatakan banyak untuk penjual sate pemula. Saya anak bapak beternak kelinci dan bapak  kebawa-bawa jadi penjual sate kelinci. Berkah dagangan. Satu pintu rezeki dibuka lagi untuk bapak melalui perdagangan. Untuk Bapak, utamakan konsumen. Berikan apa yang diinginkan konsumen, bukan yang mampu dilakukan produsen.
Pada kelas tiga, kelinci saya sudah ratusan. Tentunya semua itu dibantu oleh manusia-manusia perkasa disamping saya. Yaitu Ibu dan Bapak. Jika ada yang mengatakan “Jangan hanya melihat orang diatas kita, namun lihat juga orang dibawah kita. Tapi saya mengatakan “Jangan hanya lihat orang dibawah dan diatas kita, tapi lihat juga orang disamping kita”.  Orang yang membatu kesuksessan dan selalu menemani.  “Bantu orang yang dibawah kita. Amati dan ambil pelajaran dari orang diatas kita. Kenang dan hargailah orang disamping kita”.
Kelinci yang saya rawat sekian lama menjadi ratusan ekor. Dalam satu bulan saya bisa menjual lebih dari 150 ekor kelinci. banyak yang menyangka itu bisnis orang tua saya. Padahal saya yang menjalankannya. Jadi nggak ada yang mustahilkan kita yang belasan tahun sudah bisa berwirausaha. Bahkan saya kesulitan tempat untuk membuat kandang. Akhirnya kandangnya saya buat bertingkat. Sekarang kelinci itu kini saya titipkan kepada ibu unutk merawatnya, karena saya sedang kuliah dipadang. Tapi saya tetap merawat kelinci dengan cara pulang kampung dalam seminggu sekali atau sekali dalam 2 minggu. Berkat bisnis kelinci ini saya bisa masuk perguruan tinggi idaman dan bisa bayar uang kuliah sendiri. Jika waktu itu saya belum memulainya, mungkin sekarang saya masih belajar dan mencari kepandaian untuk berwirausaha.
Unutk teman-teman yang mau mencoba bisnis ternak kelinci, ini ada beberapa tips untuk memulai ternak kelincinya agar sukses dan berkembang dengan cepat :
1.      Motivasi dulu diri untuk berwirausaha
Kuatkan tekad. Ingat lebih baik membangun perusahaan sendiri dari pada membangun dan memajukan perusahaan orang lain. Ancang-ancang target yang akan dicapai dan tujuan yang akan diraih. Lalu, dengan pikiran yang matang mulai sekarang tanpa pikir panjang.
2.      Membuat kandang
Buat kandang yang nyaman untuk kelinci. kandangnya harus kuat dan tahan dari binatang lain seperti anjing. Karena kandang yang tidak kuat akan akan mudah dikoyak anjing dan binatang lainnya. Kandang kelinci harus bersih, kalau tidak kelinci bisa terserang berbagai macam penyakit.
3.      Memilih bibit kelinci.
Cari bibit yang bagus. Tanya sama orang yang sudah berpengalaman. Untuk pemula teman-teman bisa membelinya beberapa ekor dulu.
4.      Merawat kelinci
Merawat kelinci mulai dari memberi makanan dan minumannya. Memberikan obat dan menyuntiknya jika perlu. Membersihkan kandangnya, termasuk membersihkan kelinci.
5.      Pengembang biakan
Untuk mengembang biakkan kelinci, adu kelinci jantan dan betina. Tempatkan dalam satu kandang. Beberapa hari kemudian, setelah kelinci betina mengandung pisahkan dengan kelinci jantan. Sebulan setelahnya kelinci betina akan melahirkan.
6.      Pemeliharaan anak
Anak kelinci yang baru lahir dimasukkan kedalam kotak kecil. Biarkan anak kelinci satu kandang dengan induknya. Karena anak kelinci akan terus menyusui dengan induknnya. Tiga minggu setelahnya teman-teman bisa menjual anaknya dan menikmati hasilnya.
Sangat mudahkan guys untuk beternak kelinci. Untuk teman-teman yang sedang sekolah atau kuliah juga bisa melakukannya. Kalian tidak dihabiskan banyak waktu untuk merawatnya. Hasilnyapun juga memuaskan. Bayangkan kalau induk kelincinya sudah ratusan ekor. Berapa anak yang dihasilkannya. Satu ekor induk kelinci betina bisa melahirkan 8 ekor anak kelinci. bayangkan kalau 100 ekor kelinci dikalikan dengan 8 ekor anaknya dikalikan lagi dengan harga perekor anaknya. Sudah berapa tuh guys uangnya?
Untuk para pemuda-pemudi ayo bangkitkan jiwa wirausahamu. Raga dan fikiranmu bahkan mendukungmu untuk melakukan itu. tidak sulit kok untuk memulainya. Kalaupun tidak punya modal besar, kalian bisa memulainya dengan modal kecil. Ya bisa didapat dari celengan, tabungan, pinjam sama orang tua atau pinjam sama teman. kalau nggak mau pinjam kalian juga bisa jadi reseller dulu. Pokoknya tidak menyulitkan  deh. Kita tidak harus serta merta menjalankan usaha 24 jam dalam sehari. Sambil sekolah, kuliah atau bekerja juga boleh. Karena berwirausaha waktunya fleksibel. Bisa mengatur waktu sendiri dan jadi bos diperusahaan sendiri. Asal ada kemauan dan bergerak sekarang juga.
“Melalu wirausaha kita bisa membantu pemerintah untuk membangun negeri ini. Karena orang miskin dan pengangguran terus bermunculan tampa henti. Ayo tunjukkan kreasi. Agar muda-muda masa kini jadi manusia yang berarti”.
Sejatinya melalui enterprenur kita bisa membantu, mencari, menunjukkan ekspresi bahkan berdakwah. Mari kita tingkatkan jumlah pengusaha indonesia yang sekarang baru 1,65 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

#ralalib2bmarketplace
#sumpahpemuda

Senin, 26 September 2016

“TENTANG SEPI”
Oleh Mela Oktasari
Kupandangi langit-langit hampa
Menoleh lagi ke bumbungan udara tampa tau asa
Sesaat aku menatap lurus tampa makna
Kenapa semua orang hanya berlalu?
Tak maukah hanya sekedar menyapa ku?
Sepasang mata mulai berkaca-kaca
Walaupun butir-butir berlian itu tak sampai keluar dari sarangnya
Kesedihan, kepedihan dihati memancar ke muka
Mulut bisu terbungkam hanya melihatkan rona tak sedap dipandang mata
Oh tuhan...
Seperti inikah alam nanti?
Alam ketika aku meninggalkan dunia ini
Saat tersandar,
Terdengar sekilas sapaan mendekat
Dikala sepi ini dia serasa malaikat
Lalu aku tersadar

Ini semua hanya tentang sepi

Senin, 12 September 2016

JATAH??? PERTALIAN DARAH!!!!


“JATAH!!! PERTALIAN DARAH???”

Jika pemimpin diibaratkan  sebagai seorang Ayah, pantasnya seorang  Ayah akan melindungi, menjaga, memberikan kasih sayang, mencukupi kebutuhan dan mengarahkan semua anak-anaknya. Apakah anak itu seorang terpelajar atau pun tidak. Apakah anak itu seorang petani, dokter maupun tukang sapu. Mereka semua tetaplah anak dari seorang Ayah yang butuh perhatian yang adil seperti saudara- saudaranya yang lain. Begitupun dengan seorang Pemimpin atau Gubernur. Seorang Pemimpin hendaknya memberikan perhatian yang sama kepada setiap warganya. Apakah warganya sanak saudara Gubernur, orang terpandang, orang terdidik, orang yang tidak mengenal pendidikan maupun orang yang bekerja dibawah kaki tangan Pak Gubernur.
lalu kenapa pak  Gubernur?  Kenapa derah yang cepat ditangani adalah kampung halaman Bapak. Jika jalan dikampung kami sudah berpotensi menyebabkan kecelakaan akibat lubang yang begitu berbahaya belum di rencanakan anggarannya apalagi diperbaiki, kenapa kampung bapak masih terus dipoles dan diberikan kesan kemewahan. Apakah daerah kami yang terpelosok bukan termasuk daerah kepemimpinan Bapak? Lalu kenapa didaerah kami juga melakukan Pilkada?
Jika Anak, Saudara, Cucu, Kemenakan, dan Kerabat Bapak diberikan kemudahan untuk mendapatkan fasilitas pendidikan, dimudah kan masuk keperguruan tinggi serta kemudahan mendapat pekerjaan. Lalu bagaimana dengan kami anak petani, bagaimana dengan kami anak pemulung yang membantu orang tua mencari sampah rakyat ketika pulang sekolah, bagaimana dengan kami anak tukang sapu? Kenapa  kami tidak berhak mendapatkan perlakuan yang sama? Apakah kami bukan warga bapak? Lalu kenapa kami juga ikut melakukan pilkada dan menusuk kertas dengan paku yang bergambakan foto Bapak?
Apakah kami hanya akan menonton keberhasilan Anak-anak dan Kemenakan-kemenakan bapak? Padahal kami sendiri sudah memilih bapak untuk memperbaiki nasib kami, nasib daerah kami dan nasib bangsa kami. bagaimana mungkin kerabat-kerabat yang mempunyai hubungan dengan petinggi- petinggi masih mendapatkan bantuan, masih mendapatkan beasisawa dan mendapatkan fasilitas dari pemerintah. Bukan kah itu hak masyarakat miskin, haknya para anak yatim, hak nya para lansia dan orang cacat.
Kami tidak punya relasi dengan keluarga Bapak, kami tidak punya relasi dengan Kemenakan bapak. Tapi kami hanya punya tali pengharapan. Harapan yang kami gantungkan kepada Bapak agar dapat menarik tali itu sampai ke cita cita bangsa ini.
Bukan kah anak yang bekerja sebagai petani tetaplah anak Ayah? Bukankah anak yang bekerja sebagai tukang sapu tetaplah anak Ayah?  lalu kenapa anak yang bekerja sebagai dokter lebih diutamakan, lebih diharagai dan lebih diistimewakan?
Lihat lah kami para penakluk badai dilautan yang menerjang ombak untuk mendapatkan ikan. Kami butuh kapal dan jala untuk menangkap ikan. Lihat lah kami para penanam ajaib yang menghasil kan pangan untuk rakyat. Kami butuh bibit dan bajak. Lalu kemana anggaran-anggaran yang sudah dicanangkan untuk para nelayan dan petani? Kami tidak butuh jawaban. Karena kami hnya butuh hak dan fasilitas dari pemerintah.
Kami ingin pemimpin yang adil dan tidak kenal nepotisme. Kemana sumpah yang diucapakan dengan lidah seseorang yang akan mendapatkan jabatan direalisasikan?
Jika pemimpin tidak memberikan keadilan bagaimana mungkin masyarakat akan bersatu untuk memperbaiki nasib bangsa ini. Mungkin mereka hanya akan bersatu ketika melakukan demo-demo dan pemberontakan dimana-mana. Merobohkan gedung, merusak pagar dan membakar foto para pemimpin.
“Suatu ketika Kalifah Umar pada masa kepemmpinannya, umar  mematikan lampu di malam hari saat  anak beliau  menemuinya untuk urusan pribadi diruang kerja negara, itu dilakukan demi menjaga fasilitas negara”.
 Kami tidak meminta bapak untuk melakukan hal itu. Kami minta hidupkan semua lampu-lampunya untuk anak dan masyarakat bapak. Hidupkan lampu itu agar menghasilkan cahaya yang akan menerangi keterpurukan dan kegelapan kami. agar kami dapat bangkit dan memperjuangkan nasib kami bersama pemimpin yang adil, yang menutamakan kepentingan rakyat.
Kami tau pemimpin bukan Malaikat atau Dewa. Tapi pemimpin dapat memberikan yang terbaik dan mencatat dalam hatinya hal-hal yang akan ditargetkan untuk kepentingan masyaratnya.
Masyarakat ingin pemimpin yang ideal, yaitu pemimpin yang adil. Pemimpin yang pintar dan cepat bertindak ketida kondisi dan keadaan rakyat sangat membutuhkannya. Dan yang jelas bukan pemimpin yang nepotisme atau pemimpin yang mendahulukan kepentinya keluarga dibandingkan kepentingan masyarakat.

 Dengarlah  jeritan hati kami! jeritan hati anak-anak yatim, jeritan hati kami anak- anak miskin dari keluarga petani, jeritan kami mahasiswa yang sedang menyuarakan suara rakyat namun butuh didengar, butuh tanggapan. Sekali lagi  jeritan hati kami yang bukan dari “KERABAT” Bapak.

Jumat, 09 September 2016

Kendaraan hidup seorang mahasiswa
Sejatinya masa yang menentukan masa depan seorang pelajar adalah saat menjadi seorang mahasiswa. Namun sebelumnya ada beberapa jenjang pendidikan yang dilewati, yaitu sekolah dasar yang sudah di ajarkan sekian banyak pelajaran dasar maupun etika. Setelah itu  sekolah menengah pertama, disini tak kalah banyak pelajaran didalamnya, setelah itu pakaian yang sebelumnya putih dongker telah berubah  menjadi putih abu abu disaat duduk di bangku sekolah menengah atas.Bagi sebagian orang hal  yang tak terlupakan pada masa SMA adalah masa dimana mulai mengejar target perguruan tinggi yang menjadi akhir perjuangannya pada masa SMA. Namun bagisebagian yang lain masa yang tidak terlupakan adalah dimana masa masa bersama sahabat sahabat, teman teman dan guru yang telah menjadi bagian hidupnya dimasa itu.Tapi sekarang kita menceritakan kehidupan keras yang akan kita jalani pada tahun tahun kedepan setelah melewati  masa masa SMA itu. Balik lagi ke cerita masa SMA yang penuh perjuangan untuk mencapai perguruan tinggi favorit yang diinginkan, setelah sebelumnya menjalani ujian nasional yang butuh persiapan matang. Kata orang ujian nasional itu menentukan proses dari tiga tahunbelajar  sebelumnya. Setelah mengetahui kelulusan ujian nasional, siswa akan menghadapi jalur masuk perguruan tinggi yang akan menjadi sarana untuk mendapat gelar calon mahasiswa, seperti SNMPTN, SBMPTN, dan ujian mandiri atau ujian prestasi. Salah satu dari jalur masuk keperguruan tinggi ini yang akan membuat seorang menanggalkan gelarnya sebagai siswa dan mendapatkan gelar baru sebagai mahasiswa. Namun untuk mencapai gelar tersebut tak mudah, karena butuh perjuangan dengan melawan ribuan pesaing dari berbagai sekolah menengah atas yang ada di Indonesia. Bagi siswa yang bersungguh sungguh dia akan mendapatkan perguruan tinggi yang diinginkan sesuai dengan usaha yang dilakukan, tapi bagi yang berusaha secara pas-pasan maka dia juga akan mendapatkan hasil yang sama.
Setelah berhasil menduduki perguruan tinggi, disinilah awal perjuangan seorang mahasiswa.Pada masa ini dia akan bertemu dengan hal hal yang baru, dia akan menemui lingkungan yang baru, cara belajar yang berbeda dengan masa SMA, karakter pengajar yang berbeda, teman teman dan pergaulan yang jauh berbeda dengan masa masa SMA dulu. Ini berarti dia harus pandai dalam menyikapi perbedaan tersebut, dan yang paling penting seorang mahasiswa dituntut untuk mandiri. Sikap mandiri bukan berarti dia tidak boleh bekerja sama dengan orang lain, namun sikap mandiri disini adalah sikap yang menunjukkan bahwa mahasiswa itu berani, mau belajar, dan mau berlatih sesuai pengalaman hidunya.
Setelah dihadapkan pada kehidupan kampus, mahasiswaakan mencapai tujuan hidupnya. Untuk mencapai tujuan tersebut tentu saja ada alat untuk mengantarkannya ke tempat tersebut, yaitu sebuah kendaraan.Kendaraan disini di ibaratkan sebagai dua buah karakter yang berbeda.Kendaraan rajin dan kendaraan malas. Kedua karakter ini tidak bisa hanya didefenisikan sebagai karakter biasa saja yang tak berpengaruh apa-apa. Karena karakter ini yang akan menentukan arah perjalanan masa depan mahasiswa itu.Rajin dalam arti kata sebagai mahasiswa tidak lagi mempunyai arti “bersungguh sungguh belajar supaya naik kelas”, namun rajin bagi mahasiswa disini mempunyai arti yang cukup luas, yaitu mahasiswa yang pandai mengatur waktunya untuk prestasi akademik dan prestasi non akademik. Dia harus menyeimbangkan antara kedua nya. Untuk prestasi akademik dia akan pandai melihat bagaimana cara belajar yang baik untuk dirinya, pandai dalam mengatur waktu yang pas untuk belajar dan pandai mencari solusi yang tepat untuk mata kuliah yang tidak dimengertinya, dia akan menjadikan nilai atau IP sebagai hal yang penting dalam kuliah, dia akan membuat target untuk IP dalam setiap semester. Mengenai prestasi akademik adalah suatu modal untuknya dalam menunjukkan kecerdasan dan modal baginya untuk berfikir dan membuat suatu ide. Tidak hanya soal akademik, organisasi dan kegiatan non akademik juga tak kalah penting baginya, dia tidak menganaktirikan satu sama yang lain, dia meletakkan keduanya secara seimbang, dengan mengikuti kegiatan yang ada dikampus, organisasi organisasi islam, bergabung dalam lembaga dakwah kampus, mengikuti salah satu UKM (unit kegiatan mahasiswa), mengikuti kegiatan penggalangan dana, mengikuti kegiatan besar kampus yaitu BEM, melatih kemampuan dalam berkomunikasi dan berorganisasi melalui kegiatan yang ada di masyarakat. Kalau dikupas satu persatu akan banyak hal hal yang dilakukan seorang mahasiswa yang menunjukkan jati dirinya sebagai seorang mahasiswa yang rajin, dia akan melakukannya dengan bersungguh sungguh dan bersemangat, seperti kata pepatah yang tak asing lagi didengar, yang sudah menjadi mantra bagi orang orang yang mendalami maknanya, yang menjadikannya sebagai modal dalam mengerjakan sesuatu “man jadda wa jadda”, ya kalimat yang hanya singkat simple dan biasa saja, namun artinya sangat menunjukkan pembuktian yang nyata bagi yang membuktikannya. Ada sebuah cerita negri 5 menara, seorang anak yang bernama alif, alif disebutkan sebagai anak yang rajin di kampusnya, dalam setiap pekerjaan nya dia hanya menerapkan sebuah kata kata “manjadda wa jadda” , akhirnya dengan kata kata itu dia bisa sukses untuk mencapai negri impian. Contoh lain adalah seorang mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi yang ingin menjadi seorang guru, selama dikampus dia rajin untuk belajar, mengikuti kegiatan kampus , rajin ke pustaka untuk menambah wawasan calon guru, dan melatih diri berkomunikasi dengan semua orang karena guru harus pandai dalam menjelaskan pelajaran.Sifat rajin ini diletakkan sebagai kendaraan yang mengantarkan mahasiswa, Mahasiswa yang rajin ini di artikan sebagai pengemudi kendaraan dan cita citanya sebagai seorang guru adalah tempat pemberhentian akhir dari kendaraan tersebut.Begitulah seorang mahasiswa rajin menunjukkan sikapnya dikampus.Sifat rajin adalah sebuah kendaraan bagi mahasiswa, ibaratnya dia sedang berdiri diatas sesuatu yang diciptakannya sendiri dan dirakitnya sejak dulu, dihiasinya dengan pengalaman yang dilalui.
            Sifat malas juga berarti kendaraan yang berfungsi sama dengan kendaraan rajin, namun akan mengantarkan ketempat yang berbeda. Sifat malas ini akan mengantarkannya sampai ke gerbang masa depan yang suram, karena sesungguhnya sifat malasitu akan menghancurkan seseorang. Karakter malas seorang mahasiswa sudah tidak jarang lagi kita jumpai seperti mahasiswa kupu-kupu( kuliah pulang kuliah pulang), tidak peduli dengan lingkungan kampus, tidak membekali diri dengan kemampuan tambahan, kuliah dijalani begitu saja tampa target yang jelas. Sudah terlihat jelaS prilaku mahasiswa yang mala situ akan menghancurkannya, dikemudian hari mahasiswa ini akan menyesal.
 Mahasiswa yang bijak adalah mahasiswa yang akan menjalankan hal yang membuatnya berhasil dan meninggalkan hal yang akan membatnya menyesal dikemudian hari, mahasiswa yang rajin akan rutin membaca dan meminjam buku di pustaka untuk menambah pengetahuan diluar tatap muka dengan dosen, tapi mungkin bagi sebagian orang itu hal yang sangat membosankan, mahasiswa yang rajin tidak akan bolos kuliah demi sekedar nongkrong di kantin, tapi mungkin bagi sebagian orang itu merupakan halyang keren, dia akan menargetkan IPK cume laude, namun bagi mahasiswa lainnya, jalani saja kuliah ini dengan usaha dan nilai apa adanya, dia akan mengikuti kegiatan BEM untuk melatih kegiatan berkomunikasi dengan semua orang, namun bagi mahasiswa pemalas buat apa mengikuti kegiatan yang tidak pentinga itu mendingan tidur dirumah, bagi mahasiswa rajin dia akan memanfaatkan waktu yang tidak terpakai untuk bekerja diparuh waktu, namun bagi bahasiswa yang malas berfikir kalau kuliah ya kuliah aja dulu, gak usah sok sok an kerja, bagi mahasiswa yang rajin dia akan memanfaatkan beasiswa sebagai biaya kuliahnya, namun bagi mahasiswa pemalas dia tidak sadar kalau kuliah itu bisa tampa biaya, dia tidak peduli dengan program apa yang ada dikampus.Itulah beberapa perbandingan yang ditunjukkan diantara keduanya, yang menunjukkan sikap yang saling bertolak belakang, seperti dua orang yang awalnya saling berhadapan, namun setelah memiliki tujuan yang berbeda mereka saling membelakangi dan saling berjalan kedepan dengan arah yang berlawanan dan meninggalkan satu sama lainnya.

Bagi mahasiswa yang akan memilih kendaraan, pilihlah kendaraan yang tepat, kendaraan yang satu jurusan dengan tujuan mu. Jangan sampai kamu membayar kendaraan yang sia-sia , yang akan mengantarkan ke tempat yang tidak kamu inginkan, bahkan ketempat yang tidak kamu byangkan sebelumnya. Namun bagi kamu yang belum tau kendaraan mu.Segera lah pilih kendaraan yang terbaik, tak ada kata terlambat bagi mu. Setelah sekian lama kamu berjalan tampa arah, nikmati saat saat kamu merakit kendaraan itu, maka kamu akan menikmati indahnya hasil dari usahamu itu. Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari karena  terpakai dalam dunia kerja. Karena dunia kerja saat ini membutuhkan karakter yang tak hanya kecerdasan, namun kemampuan kemampuan lain yang juga mendukung.