WIRAUSAHA MUDA
KEMBANG BIAKKAN KELINCI HINGGA RATUSAN EKOR
Muda
dan Usaha adalah dua unsur yang sangat cocok untuk dikombinasikan. Muda bagi
saya sangat identik dengan kobaran semangatnya, jiwa mudanya serta lahirnya
kreasi dan inovasi baru. Sedangkan jika mendengar kata usaha jadi teringat
karya-karyanya dan keuntungan usahanya.
Lahirlah hasil kombinasi tersebut dengan kalimat “Berwirausaha
diusia muda”. Menjalani usaha diusia muda, saya berani mengatakan kalau
tidak sulit menjalaninya. Tentunya bagi muda-mudi yang mempunyai semangat
tinggi. Kerja keras, fokus dan bersabar adalah salah satu kuncinya. Dengan usia
muda sangat mudah untuk memulai sesuatu termasuk berwirausaha. Ini saya
buktikan ketika memulai usaha beternak kelinci pada waktu kelas satu SMA. Beternak
kelinci salah satu rutinitas saya setelah belajar. Awalnya kepikiran untuk
kerja sampingan ditoko atau rumah makan. Maklumlah, untuk anak SMA saya pikir
waktu itu memang pantas untuk sekedar menjaga toko atau mencuci piring di rumah
makan. Tiba-tiba saya ingat kata-kata
pada sebuah buku “Kalau bisa membangun
dan memajukan perusahaan sendiri kenapa harus memajukan perusahaan orang lain?”
kalimat itu sangat menyindir saya yang waktu itu masih 16 tahun sekaligus
memotivasi diri untuk mencoba berwirausaha. Akhirnya target saya untuk menjadi enterprenur sukses diusia 30-an saya
majukan menjadi usia 20-an.
Kelinci hewan yang sangat saya senangi. Awalnya hanya punya sepasang kelinci biasa.
Setelah melihat kondisi kampung yang rata-rata masyarakatnya adalah petani,
saya kepikiran untuk memanfaatkan sisa-sisa sayuran untuk makanan kelinci.
Akhirnya kelinci yang awalnya sepasang, satu ekor betina satu ekor jantan saya
beli lagi 5 ekor betina dan satu ekor jantan. Uang beli induk kelincinya sih dari pecahan celengan ayam. Harga 6
induk kelinci waktu itu Rp. 500.000. Uang dicelengan hanya Rp. 300.000. Sisanya
minta sama Ibu. Jadilah waktu itu 8 ekor kelinci, 6 ekor kelinci betina dan 2 ekor kelinci jantan.
Untuk kandangnya minta dibuatkan sama Bapak. Satu hari penuh Bapak menyelesaikan
6 kotak kandang untuk sang kelinci. Dengan melihat peluang dan kemauan saya
mulai berwirausaha. Keesokan harinya dihidup saya tak hanya ada Ibu dan Bapak tapi
satu lagi kelinci (hehe alay). Satu hal
yang terbesit dalam pikiran saya waktu itu, “kenapa kita hanya selalu menjadi pembeli. Karena setiap kita membeli,
berarti kita menikmati karya-karya orang lain. Menikmati kreatifitas orang
lain. Bukankah kita juga bisa berkarya dan menghasilkan seperti mereka? agar
karya kita juga dinikmati”.
Replay
lagi ke bahasan kampung saya yang mayoritas petani tadi (termasuk Ibu dan Bapak),
saya manfaatkan makanan kelinci dari sisa-sisa panen. Seperti sayuran tua yang
tidak dipanen lagi, kecambah ubi
jalar dan sisa-sisa kol
yang tidak dipetik petani. Melalui pemanfaatan tersebut tidak perlu
keluar modal untuk beli makanannya.
Modalnya cukup untuk membeli induk kelinci dan membuat kandang.
Sepulang
sekolah, setelah selesai makan dan shalat saya habiskan waktu unutk merawat
kelinci, mulai dari mencari makanannya, membersihkan kandang dan memberi obat
serta suntikan supaya kelinci cepat besar dan bertambah sehat.
Ternyata
benar, kobaran semangat muda lebih garang. Usaha Muda tampak segar walaupun
yang tua belum tentu lapuk. Setengah hari yang saya habiskan untuk merawat
kelinci jadi tidak terasa. Mungkin didukung juga dengan fisik yang bugar dan
fikiran nan segar. Saya tidak merasa berbisnis tetapi merasa mengembangkan
hobi. Karena kegemaran dan kesenangan saya terhadap kelinci. Saya jadi
membuktikan pekerjaan yang paling senang adalah mengerjakan hobi. Walaupun
ketika berwirausaha pasti ada maju mundur, jatuh bangun dan untung ruginya.
Termasuk saya, ketika beternak juga kadang mengalami hambatan seperti ada
kelinci yang sakit bahkan ada yang mati. disitulah kesabaran saya diuji Yang Kuasa.
“Tapi itulah jiwa muda saya ketika
berwirausaha, jatuh sekali bangkit seribu kali. Ketika muda, diinilah kita bisa
belajar dan terus mencoba. Ketika jatuh bangkit lagi. Jatuh lagi, kita masih
punya stok semangat untuk bangkit lagi. Jika memang kita akan berhasil nantinya
diusia tua, setidaknya persiapannya diusia muda. Tapi jika baru memulai usaha
diusia tua, kalau belum punya pengalaman dan kepandaian, kapan akan belajarnya
dan kapan suksesnya?” walaupun juga
ada usia tua yang mulai belajar bahkan berhasil, setidaknya untuk para
pemuda-pemudi berusahalah dan berwirausahalah sekarang.
Dua
bulan setelah beternak kelinci, akhirnya anak-anak kelinci yang sangat imut dan
lucu bermunculan kemuka bumi (hehe alay lagi). Sebulan setelahnya anak-anaknya
sudah bisa dijual dengan harga Rp. 25.000 per ekor. Dari 6 ekor kelinci betina
4 ekor menghasilkan anak yang kalau dijumlahkan sebanyak 19 ekor, satu induk
kelinci sakit dan satu ekor lagi sepertinya mandul. Kalau dikalikan, 3 bulan
setelah membuat kandang 10 ekor anak kelinci seharga Rp. 250.000 berhasil
dijual. 9 ekor anak kelinci lagi saya jadikan bibit untuk induk kelinci. 2
bulan setelahnya lagi saya berhasil lagi menjual anaknya seharga Rp. 250.000. Lima bulan setelah pembuatan kandang saya sudah
berhasil memulangkan modal. Kalau dalam bahasa ekonominya BEP yaitu break event point (ciee pakai bahasa
ekonomi segala). O ya saya lupa cerita kalau sekarang saya kuliah jurusan
ekonomi disalah satu perguruan tinggi yang ada dipadang (Universitas Negeri
Padang). Akhirnya Uang ibu yang dipinjam Rp. 200.000 dikembalikan lagi.
Kelas
2 SMA saya tidak pernah minta uang lagi kepada orang tua. Malah kadang-kadang
saya yang ngasih ibu buat belanja (bukan pamer yaa). Disaat teman-teman yang
lain sibuk belajar, organisasi, facebookan,
ngegems dan lain-lain saya malah sibuk merawat kelinci dan keladang sambil
membawa karung mencari sisa-sisa panen sayuran petani untuk makanan sang
kelinci. Saya merasa semua itu bukan beban hanya rutinaitas biasa yang
menyenangkan dan tidak membosankan.
Selain
mengasah kemampuan dan mendapat pengalaman, bisnis kelinci juga bisa mendapat
keuntungan alias uang. Sejak saat itu saya bisa beli buku, tas, sepatu bahkan HP
dengan hasil keringat sendiri. Saya bersyukur. Karena ketika sukses
berwirausaha, disitulah rasa syukur kita diuji. Sangat banyak pelajaran yang
kita ambil melalui wirausaha.
Satu
hal lagi yang saya buktikan adalah pintu yang banyak dibukakan untuk rezeki
adalah perdagangan. Bahkan junjungan umat islam sekalipun nabi Muhammad SAW dan
sahabat juga membuka pintu rezekinya dengan berdagang. Diindonesia bahkan
didunia sekalipun, orang terkayanya adalah pengusaha. Lantas, kenapa kita yang
jiwa muda belum juga untuk memulainya?
Replay
lagi ke bahasan saya mengenai kepandaian melihat peluang. saya ingin
menghubungkannya dengan penjual sate ayam yang sering lewat didepan rumah. Loh apa hubungannya melihat peluang
dengan penjual sate ayam? Jadi ngini, penjual sate ayam itu setiap sore sering
dinantikan warga disimpang empat dekat polindes yang ada dikampung. Komentar
warga terhadap sate ayam itu sangat enak dan maknyus, saya pun mengakuinya. Penjual
sate berkeliling setiap sore, banyak warga yang tidak kebagian karena sudah
habis sebelum sampai ke depan rumah mereka. Jadi yang kebagian membeli ialah
warga yang cepat. Siapa yang cepat ia dapat. Akhirnya warga yang nekat
memutuskan untuk antri didepan polindes tempat pertama yang dilalui penjual
sate ayam. Berarti sate ayamnya limited
kan? Warga mengantri agar kebagian memebeli sate (ini bukan berlebihan guys,
satenya memang maknyus bangeeeet).
Disitulah
saya melihat peluang. saya ingin
membantu penjual sate untuk memenuhi kebutuhan warga. Namun dengan tawaran yang
berbeda yaitu sate kelinci. Selain bahan bakunya dari ternak kelinci sendiri,
saya tertarik untuk membuat sate, karena daging kelinci lebih sehat, rendah
lemak dan rendah rendah kolesterol dibandingkan daging ayam dan daging sapi.
Ketika
warga menjadi pembeli yang baik dan sigap, saya ingin menjadi produsen yang
baik dan mampu melihat peluang. karena menurut saya “Jangan hanya jadi pendengar yang baik, tapi jadilah pembicara yang
baik. Jangan hanya jadi pembaca yang baik, tapi jadilah penulis yang baik.
Jangan hanya jadi pembeli yang baik, tapi jadilah produsen yang baik”.
Karena sejatinya pendengar, pembaca dan
pembeli hanya penikmat bukan pencipta. Namun ketika kita sudah menjadi
pendengar, pembaca dan pembeli disitulah kita bisa mengahargainya. Karena tanpa
pendengar tidak akan ada pembicara yang sukses. Tanpa pembaca tidak akan ada
penulis yang sukses. Tanpa pembeli tidak akan ada produsen yang sukses (hehe
sekedar motivasi guys).
O ya
balik lagi kesate kelincinya, jadi saya merekomendasikan bapak untuk menjual
sate kelinci. Singkat cerita Bapak akhirnya menjual sate kelinci dan vacum sementara waktu keladang. Walaupun
awalnya sate kelinci Bapak tidak seenak sate ayam yang lewat didepan rumah.
Namun setelah beberapa bulan kedepan sate kelinci bapak tidak kalah dengan sate
ayam, pelanggannya pun juga sudah bisa dikatakan banyak untuk penjual sate
pemula. Saya anak bapak beternak kelinci dan bapak kebawa-bawa
jadi penjual sate kelinci. Berkah dagangan. Satu pintu rezeki dibuka lagi untuk
bapak melalui perdagangan. Untuk Bapak, utamakan konsumen. Berikan apa yang
diinginkan konsumen, bukan yang mampu dilakukan produsen.
Pada
kelas tiga, kelinci saya sudah ratusan. Tentunya semua itu dibantu oleh
manusia-manusia perkasa disamping saya. Yaitu Ibu dan Bapak. Jika ada yang
mengatakan “Jangan hanya melihat orang diatas kita, namun lihat juga orang
dibawah kita. Tapi saya mengatakan “Jangan
hanya lihat orang dibawah dan diatas kita, tapi lihat juga orang disamping kita”.
Orang yang membatu kesuksessan dan
selalu menemani. “Bantu orang yang dibawah kita. Amati dan ambil pelajaran dari orang
diatas kita. Kenang dan hargailah orang disamping kita”.
Kelinci
yang saya rawat sekian lama menjadi ratusan ekor. Dalam satu bulan saya bisa
menjual lebih dari 150 ekor kelinci. banyak yang menyangka itu bisnis orang tua
saya. Padahal saya yang menjalankannya. Jadi nggak ada yang mustahilkan kita yang belasan tahun sudah bisa
berwirausaha. Bahkan saya kesulitan tempat untuk membuat kandang. Akhirnya
kandangnya saya buat bertingkat. Sekarang kelinci itu kini saya titipkan kepada
ibu unutk merawatnya, karena saya sedang kuliah dipadang. Tapi saya tetap
merawat kelinci dengan cara pulang kampung dalam seminggu sekali atau sekali
dalam 2 minggu. Berkat bisnis kelinci ini saya bisa masuk perguruan tinggi
idaman dan bisa bayar uang kuliah sendiri. Jika waktu itu saya belum
memulainya, mungkin sekarang saya masih belajar dan mencari kepandaian untuk
berwirausaha.
Unutk teman-teman yang mau mencoba
bisnis ternak kelinci, ini ada beberapa tips untuk memulai ternak kelincinya
agar sukses dan berkembang dengan cepat :
1. Motivasi dulu diri untuk
berwirausaha
Kuatkan
tekad. Ingat lebih baik membangun perusahaan sendiri dari pada membangun dan
memajukan perusahaan orang lain. Ancang-ancang target yang akan dicapai dan
tujuan yang akan diraih. Lalu, dengan pikiran yang matang mulai sekarang tanpa
pikir panjang.
2. Membuat kandang
Buat
kandang yang nyaman untuk kelinci. kandangnya harus kuat dan tahan dari
binatang lain seperti anjing. Karena kandang yang tidak kuat akan akan mudah
dikoyak anjing dan binatang lainnya. Kandang kelinci harus bersih, kalau tidak
kelinci bisa terserang berbagai macam penyakit.
3. Memilih bibit kelinci.
Cari
bibit yang bagus. Tanya sama orang yang sudah berpengalaman. Untuk pemula
teman-teman bisa membelinya beberapa ekor dulu.
4. Merawat kelinci
Merawat
kelinci mulai dari memberi makanan dan minumannya. Memberikan obat dan
menyuntiknya jika perlu. Membersihkan kandangnya, termasuk membersihkan
kelinci.
5. Pengembang biakan
Untuk
mengembang biakkan kelinci, adu kelinci jantan dan betina. Tempatkan dalam satu
kandang. Beberapa hari kemudian, setelah kelinci betina mengandung pisahkan
dengan kelinci jantan. Sebulan setelahnya kelinci betina akan melahirkan.
6. Pemeliharaan anak
Anak
kelinci yang baru lahir dimasukkan kedalam kotak kecil. Biarkan anak kelinci
satu kandang dengan induknya. Karena anak kelinci akan terus menyusui dengan
induknnya. Tiga minggu setelahnya teman-teman bisa menjual anaknya dan
menikmati hasilnya.
Sangat
mudahkan guys untuk beternak kelinci.
Untuk teman-teman yang sedang sekolah atau kuliah juga bisa melakukannya.
Kalian tidak dihabiskan banyak waktu untuk merawatnya. Hasilnyapun juga
memuaskan. Bayangkan kalau induk kelincinya sudah ratusan ekor. Berapa anak
yang dihasilkannya. Satu ekor induk kelinci betina bisa melahirkan 8 ekor anak
kelinci. bayangkan kalau 100 ekor kelinci dikalikan dengan 8 ekor anaknya
dikalikan lagi dengan harga perekor anaknya. Sudah berapa tuh guys uangnya?
Untuk
para pemuda-pemudi ayo bangkitkan jiwa wirausahamu. Raga dan fikiranmu bahkan
mendukungmu untuk melakukan itu. tidak sulit kok untuk memulainya. Kalaupun tidak punya modal besar, kalian bisa
memulainya dengan modal kecil. Ya bisa didapat dari celengan, tabungan, pinjam
sama orang tua atau pinjam sama teman. kalau nggak mau pinjam kalian juga bisa
jadi reseller dulu. Pokoknya tidak menyulitkan deh. Kita tidak harus serta
merta menjalankan usaha 24 jam dalam sehari. Sambil sekolah, kuliah atau
bekerja juga boleh. Karena berwirausaha waktunya fleksibel. Bisa mengatur waktu
sendiri dan jadi bos diperusahaan sendiri. Asal ada kemauan dan bergerak
sekarang juga.
“Melalu wirausaha kita bisa
membantu pemerintah untuk membangun negeri ini. Karena orang miskin dan
pengangguran terus bermunculan tampa henti. Ayo tunjukkan kreasi. Agar
muda-muda masa kini jadi manusia yang berarti”.
Sejatinya
melalui enterprenur kita bisa membantu, mencari, menunjukkan ekspresi bahkan
berdakwah. Mari kita tingkatkan jumlah pengusaha indonesia yang sekarang baru
1,65 persen dari jumlah penduduk Indonesia.
#ralalib2bmarketplace
#sumpahpemuda




