Senin, 26 September 2016

“TENTANG SEPI”
Oleh Mela Oktasari
Kupandangi langit-langit hampa
Menoleh lagi ke bumbungan udara tampa tau asa
Sesaat aku menatap lurus tampa makna
Kenapa semua orang hanya berlalu?
Tak maukah hanya sekedar menyapa ku?
Sepasang mata mulai berkaca-kaca
Walaupun butir-butir berlian itu tak sampai keluar dari sarangnya
Kesedihan, kepedihan dihati memancar ke muka
Mulut bisu terbungkam hanya melihatkan rona tak sedap dipandang mata
Oh tuhan...
Seperti inikah alam nanti?
Alam ketika aku meninggalkan dunia ini
Saat tersandar,
Terdengar sekilas sapaan mendekat
Dikala sepi ini dia serasa malaikat
Lalu aku tersadar

Ini semua hanya tentang sepi

Senin, 12 September 2016

JATAH??? PERTALIAN DARAH!!!!


“JATAH!!! PERTALIAN DARAH???”

Jika pemimpin diibaratkan  sebagai seorang Ayah, pantasnya seorang  Ayah akan melindungi, menjaga, memberikan kasih sayang, mencukupi kebutuhan dan mengarahkan semua anak-anaknya. Apakah anak itu seorang terpelajar atau pun tidak. Apakah anak itu seorang petani, dokter maupun tukang sapu. Mereka semua tetaplah anak dari seorang Ayah yang butuh perhatian yang adil seperti saudara- saudaranya yang lain. Begitupun dengan seorang Pemimpin atau Gubernur. Seorang Pemimpin hendaknya memberikan perhatian yang sama kepada setiap warganya. Apakah warganya sanak saudara Gubernur, orang terpandang, orang terdidik, orang yang tidak mengenal pendidikan maupun orang yang bekerja dibawah kaki tangan Pak Gubernur.
lalu kenapa pak  Gubernur?  Kenapa derah yang cepat ditangani adalah kampung halaman Bapak. Jika jalan dikampung kami sudah berpotensi menyebabkan kecelakaan akibat lubang yang begitu berbahaya belum di rencanakan anggarannya apalagi diperbaiki, kenapa kampung bapak masih terus dipoles dan diberikan kesan kemewahan. Apakah daerah kami yang terpelosok bukan termasuk daerah kepemimpinan Bapak? Lalu kenapa didaerah kami juga melakukan Pilkada?
Jika Anak, Saudara, Cucu, Kemenakan, dan Kerabat Bapak diberikan kemudahan untuk mendapatkan fasilitas pendidikan, dimudah kan masuk keperguruan tinggi serta kemudahan mendapat pekerjaan. Lalu bagaimana dengan kami anak petani, bagaimana dengan kami anak pemulung yang membantu orang tua mencari sampah rakyat ketika pulang sekolah, bagaimana dengan kami anak tukang sapu? Kenapa  kami tidak berhak mendapatkan perlakuan yang sama? Apakah kami bukan warga bapak? Lalu kenapa kami juga ikut melakukan pilkada dan menusuk kertas dengan paku yang bergambakan foto Bapak?
Apakah kami hanya akan menonton keberhasilan Anak-anak dan Kemenakan-kemenakan bapak? Padahal kami sendiri sudah memilih bapak untuk memperbaiki nasib kami, nasib daerah kami dan nasib bangsa kami. bagaimana mungkin kerabat-kerabat yang mempunyai hubungan dengan petinggi- petinggi masih mendapatkan bantuan, masih mendapatkan beasisawa dan mendapatkan fasilitas dari pemerintah. Bukan kah itu hak masyarakat miskin, haknya para anak yatim, hak nya para lansia dan orang cacat.
Kami tidak punya relasi dengan keluarga Bapak, kami tidak punya relasi dengan Kemenakan bapak. Tapi kami hanya punya tali pengharapan. Harapan yang kami gantungkan kepada Bapak agar dapat menarik tali itu sampai ke cita cita bangsa ini.
Bukan kah anak yang bekerja sebagai petani tetaplah anak Ayah? Bukankah anak yang bekerja sebagai tukang sapu tetaplah anak Ayah?  lalu kenapa anak yang bekerja sebagai dokter lebih diutamakan, lebih diharagai dan lebih diistimewakan?
Lihat lah kami para penakluk badai dilautan yang menerjang ombak untuk mendapatkan ikan. Kami butuh kapal dan jala untuk menangkap ikan. Lihat lah kami para penanam ajaib yang menghasil kan pangan untuk rakyat. Kami butuh bibit dan bajak. Lalu kemana anggaran-anggaran yang sudah dicanangkan untuk para nelayan dan petani? Kami tidak butuh jawaban. Karena kami hnya butuh hak dan fasilitas dari pemerintah.
Kami ingin pemimpin yang adil dan tidak kenal nepotisme. Kemana sumpah yang diucapakan dengan lidah seseorang yang akan mendapatkan jabatan direalisasikan?
Jika pemimpin tidak memberikan keadilan bagaimana mungkin masyarakat akan bersatu untuk memperbaiki nasib bangsa ini. Mungkin mereka hanya akan bersatu ketika melakukan demo-demo dan pemberontakan dimana-mana. Merobohkan gedung, merusak pagar dan membakar foto para pemimpin.
“Suatu ketika Kalifah Umar pada masa kepemmpinannya, umar  mematikan lampu di malam hari saat  anak beliau  menemuinya untuk urusan pribadi diruang kerja negara, itu dilakukan demi menjaga fasilitas negara”.
 Kami tidak meminta bapak untuk melakukan hal itu. Kami minta hidupkan semua lampu-lampunya untuk anak dan masyarakat bapak. Hidupkan lampu itu agar menghasilkan cahaya yang akan menerangi keterpurukan dan kegelapan kami. agar kami dapat bangkit dan memperjuangkan nasib kami bersama pemimpin yang adil, yang menutamakan kepentingan rakyat.
Kami tau pemimpin bukan Malaikat atau Dewa. Tapi pemimpin dapat memberikan yang terbaik dan mencatat dalam hatinya hal-hal yang akan ditargetkan untuk kepentingan masyaratnya.
Masyarakat ingin pemimpin yang ideal, yaitu pemimpin yang adil. Pemimpin yang pintar dan cepat bertindak ketida kondisi dan keadaan rakyat sangat membutuhkannya. Dan yang jelas bukan pemimpin yang nepotisme atau pemimpin yang mendahulukan kepentinya keluarga dibandingkan kepentingan masyarakat.

 Dengarlah  jeritan hati kami! jeritan hati anak-anak yatim, jeritan hati kami anak- anak miskin dari keluarga petani, jeritan kami mahasiswa yang sedang menyuarakan suara rakyat namun butuh didengar, butuh tanggapan. Sekali lagi  jeritan hati kami yang bukan dari “KERABAT” Bapak.

Jumat, 09 September 2016

Kendaraan hidup seorang mahasiswa
Sejatinya masa yang menentukan masa depan seorang pelajar adalah saat menjadi seorang mahasiswa. Namun sebelumnya ada beberapa jenjang pendidikan yang dilewati, yaitu sekolah dasar yang sudah di ajarkan sekian banyak pelajaran dasar maupun etika. Setelah itu  sekolah menengah pertama, disini tak kalah banyak pelajaran didalamnya, setelah itu pakaian yang sebelumnya putih dongker telah berubah  menjadi putih abu abu disaat duduk di bangku sekolah menengah atas.Bagi sebagian orang hal  yang tak terlupakan pada masa SMA adalah masa dimana mulai mengejar target perguruan tinggi yang menjadi akhir perjuangannya pada masa SMA. Namun bagisebagian yang lain masa yang tidak terlupakan adalah dimana masa masa bersama sahabat sahabat, teman teman dan guru yang telah menjadi bagian hidupnya dimasa itu.Tapi sekarang kita menceritakan kehidupan keras yang akan kita jalani pada tahun tahun kedepan setelah melewati  masa masa SMA itu. Balik lagi ke cerita masa SMA yang penuh perjuangan untuk mencapai perguruan tinggi favorit yang diinginkan, setelah sebelumnya menjalani ujian nasional yang butuh persiapan matang. Kata orang ujian nasional itu menentukan proses dari tiga tahunbelajar  sebelumnya. Setelah mengetahui kelulusan ujian nasional, siswa akan menghadapi jalur masuk perguruan tinggi yang akan menjadi sarana untuk mendapat gelar calon mahasiswa, seperti SNMPTN, SBMPTN, dan ujian mandiri atau ujian prestasi. Salah satu dari jalur masuk keperguruan tinggi ini yang akan membuat seorang menanggalkan gelarnya sebagai siswa dan mendapatkan gelar baru sebagai mahasiswa. Namun untuk mencapai gelar tersebut tak mudah, karena butuh perjuangan dengan melawan ribuan pesaing dari berbagai sekolah menengah atas yang ada di Indonesia. Bagi siswa yang bersungguh sungguh dia akan mendapatkan perguruan tinggi yang diinginkan sesuai dengan usaha yang dilakukan, tapi bagi yang berusaha secara pas-pasan maka dia juga akan mendapatkan hasil yang sama.
Setelah berhasil menduduki perguruan tinggi, disinilah awal perjuangan seorang mahasiswa.Pada masa ini dia akan bertemu dengan hal hal yang baru, dia akan menemui lingkungan yang baru, cara belajar yang berbeda dengan masa SMA, karakter pengajar yang berbeda, teman teman dan pergaulan yang jauh berbeda dengan masa masa SMA dulu. Ini berarti dia harus pandai dalam menyikapi perbedaan tersebut, dan yang paling penting seorang mahasiswa dituntut untuk mandiri. Sikap mandiri bukan berarti dia tidak boleh bekerja sama dengan orang lain, namun sikap mandiri disini adalah sikap yang menunjukkan bahwa mahasiswa itu berani, mau belajar, dan mau berlatih sesuai pengalaman hidunya.
Setelah dihadapkan pada kehidupan kampus, mahasiswaakan mencapai tujuan hidupnya. Untuk mencapai tujuan tersebut tentu saja ada alat untuk mengantarkannya ke tempat tersebut, yaitu sebuah kendaraan.Kendaraan disini di ibaratkan sebagai dua buah karakter yang berbeda.Kendaraan rajin dan kendaraan malas. Kedua karakter ini tidak bisa hanya didefenisikan sebagai karakter biasa saja yang tak berpengaruh apa-apa. Karena karakter ini yang akan menentukan arah perjalanan masa depan mahasiswa itu.Rajin dalam arti kata sebagai mahasiswa tidak lagi mempunyai arti “bersungguh sungguh belajar supaya naik kelas”, namun rajin bagi mahasiswa disini mempunyai arti yang cukup luas, yaitu mahasiswa yang pandai mengatur waktunya untuk prestasi akademik dan prestasi non akademik. Dia harus menyeimbangkan antara kedua nya. Untuk prestasi akademik dia akan pandai melihat bagaimana cara belajar yang baik untuk dirinya, pandai dalam mengatur waktu yang pas untuk belajar dan pandai mencari solusi yang tepat untuk mata kuliah yang tidak dimengertinya, dia akan menjadikan nilai atau IP sebagai hal yang penting dalam kuliah, dia akan membuat target untuk IP dalam setiap semester. Mengenai prestasi akademik adalah suatu modal untuknya dalam menunjukkan kecerdasan dan modal baginya untuk berfikir dan membuat suatu ide. Tidak hanya soal akademik, organisasi dan kegiatan non akademik juga tak kalah penting baginya, dia tidak menganaktirikan satu sama yang lain, dia meletakkan keduanya secara seimbang, dengan mengikuti kegiatan yang ada dikampus, organisasi organisasi islam, bergabung dalam lembaga dakwah kampus, mengikuti salah satu UKM (unit kegiatan mahasiswa), mengikuti kegiatan penggalangan dana, mengikuti kegiatan besar kampus yaitu BEM, melatih kemampuan dalam berkomunikasi dan berorganisasi melalui kegiatan yang ada di masyarakat. Kalau dikupas satu persatu akan banyak hal hal yang dilakukan seorang mahasiswa yang menunjukkan jati dirinya sebagai seorang mahasiswa yang rajin, dia akan melakukannya dengan bersungguh sungguh dan bersemangat, seperti kata pepatah yang tak asing lagi didengar, yang sudah menjadi mantra bagi orang orang yang mendalami maknanya, yang menjadikannya sebagai modal dalam mengerjakan sesuatu “man jadda wa jadda”, ya kalimat yang hanya singkat simple dan biasa saja, namun artinya sangat menunjukkan pembuktian yang nyata bagi yang membuktikannya. Ada sebuah cerita negri 5 menara, seorang anak yang bernama alif, alif disebutkan sebagai anak yang rajin di kampusnya, dalam setiap pekerjaan nya dia hanya menerapkan sebuah kata kata “manjadda wa jadda” , akhirnya dengan kata kata itu dia bisa sukses untuk mencapai negri impian. Contoh lain adalah seorang mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi yang ingin menjadi seorang guru, selama dikampus dia rajin untuk belajar, mengikuti kegiatan kampus , rajin ke pustaka untuk menambah wawasan calon guru, dan melatih diri berkomunikasi dengan semua orang karena guru harus pandai dalam menjelaskan pelajaran.Sifat rajin ini diletakkan sebagai kendaraan yang mengantarkan mahasiswa, Mahasiswa yang rajin ini di artikan sebagai pengemudi kendaraan dan cita citanya sebagai seorang guru adalah tempat pemberhentian akhir dari kendaraan tersebut.Begitulah seorang mahasiswa rajin menunjukkan sikapnya dikampus.Sifat rajin adalah sebuah kendaraan bagi mahasiswa, ibaratnya dia sedang berdiri diatas sesuatu yang diciptakannya sendiri dan dirakitnya sejak dulu, dihiasinya dengan pengalaman yang dilalui.
            Sifat malas juga berarti kendaraan yang berfungsi sama dengan kendaraan rajin, namun akan mengantarkan ketempat yang berbeda. Sifat malas ini akan mengantarkannya sampai ke gerbang masa depan yang suram, karena sesungguhnya sifat malasitu akan menghancurkan seseorang. Karakter malas seorang mahasiswa sudah tidak jarang lagi kita jumpai seperti mahasiswa kupu-kupu( kuliah pulang kuliah pulang), tidak peduli dengan lingkungan kampus, tidak membekali diri dengan kemampuan tambahan, kuliah dijalani begitu saja tampa target yang jelas. Sudah terlihat jelaS prilaku mahasiswa yang mala situ akan menghancurkannya, dikemudian hari mahasiswa ini akan menyesal.
 Mahasiswa yang bijak adalah mahasiswa yang akan menjalankan hal yang membuatnya berhasil dan meninggalkan hal yang akan membatnya menyesal dikemudian hari, mahasiswa yang rajin akan rutin membaca dan meminjam buku di pustaka untuk menambah pengetahuan diluar tatap muka dengan dosen, tapi mungkin bagi sebagian orang itu hal yang sangat membosankan, mahasiswa yang rajin tidak akan bolos kuliah demi sekedar nongkrong di kantin, tapi mungkin bagi sebagian orang itu merupakan halyang keren, dia akan menargetkan IPK cume laude, namun bagi mahasiswa lainnya, jalani saja kuliah ini dengan usaha dan nilai apa adanya, dia akan mengikuti kegiatan BEM untuk melatih kegiatan berkomunikasi dengan semua orang, namun bagi mahasiswa pemalas buat apa mengikuti kegiatan yang tidak pentinga itu mendingan tidur dirumah, bagi mahasiswa rajin dia akan memanfaatkan waktu yang tidak terpakai untuk bekerja diparuh waktu, namun bagi bahasiswa yang malas berfikir kalau kuliah ya kuliah aja dulu, gak usah sok sok an kerja, bagi mahasiswa yang rajin dia akan memanfaatkan beasiswa sebagai biaya kuliahnya, namun bagi mahasiswa pemalas dia tidak sadar kalau kuliah itu bisa tampa biaya, dia tidak peduli dengan program apa yang ada dikampus.Itulah beberapa perbandingan yang ditunjukkan diantara keduanya, yang menunjukkan sikap yang saling bertolak belakang, seperti dua orang yang awalnya saling berhadapan, namun setelah memiliki tujuan yang berbeda mereka saling membelakangi dan saling berjalan kedepan dengan arah yang berlawanan dan meninggalkan satu sama lainnya.

Bagi mahasiswa yang akan memilih kendaraan, pilihlah kendaraan yang tepat, kendaraan yang satu jurusan dengan tujuan mu. Jangan sampai kamu membayar kendaraan yang sia-sia , yang akan mengantarkan ke tempat yang tidak kamu inginkan, bahkan ketempat yang tidak kamu byangkan sebelumnya. Namun bagi kamu yang belum tau kendaraan mu.Segera lah pilih kendaraan yang terbaik, tak ada kata terlambat bagi mu. Setelah sekian lama kamu berjalan tampa arah, nikmati saat saat kamu merakit kendaraan itu, maka kamu akan menikmati indahnya hasil dari usahamu itu. Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari karena  terpakai dalam dunia kerja. Karena dunia kerja saat ini membutuhkan karakter yang tak hanya kecerdasan, namun kemampuan kemampuan lain yang juga mendukung.