Senin, 12 September 2016

JATAH??? PERTALIAN DARAH!!!!


“JATAH!!! PERTALIAN DARAH???”

Jika pemimpin diibaratkan  sebagai seorang Ayah, pantasnya seorang  Ayah akan melindungi, menjaga, memberikan kasih sayang, mencukupi kebutuhan dan mengarahkan semua anak-anaknya. Apakah anak itu seorang terpelajar atau pun tidak. Apakah anak itu seorang petani, dokter maupun tukang sapu. Mereka semua tetaplah anak dari seorang Ayah yang butuh perhatian yang adil seperti saudara- saudaranya yang lain. Begitupun dengan seorang Pemimpin atau Gubernur. Seorang Pemimpin hendaknya memberikan perhatian yang sama kepada setiap warganya. Apakah warganya sanak saudara Gubernur, orang terpandang, orang terdidik, orang yang tidak mengenal pendidikan maupun orang yang bekerja dibawah kaki tangan Pak Gubernur.
lalu kenapa pak  Gubernur?  Kenapa derah yang cepat ditangani adalah kampung halaman Bapak. Jika jalan dikampung kami sudah berpotensi menyebabkan kecelakaan akibat lubang yang begitu berbahaya belum di rencanakan anggarannya apalagi diperbaiki, kenapa kampung bapak masih terus dipoles dan diberikan kesan kemewahan. Apakah daerah kami yang terpelosok bukan termasuk daerah kepemimpinan Bapak? Lalu kenapa didaerah kami juga melakukan Pilkada?
Jika Anak, Saudara, Cucu, Kemenakan, dan Kerabat Bapak diberikan kemudahan untuk mendapatkan fasilitas pendidikan, dimudah kan masuk keperguruan tinggi serta kemudahan mendapat pekerjaan. Lalu bagaimana dengan kami anak petani, bagaimana dengan kami anak pemulung yang membantu orang tua mencari sampah rakyat ketika pulang sekolah, bagaimana dengan kami anak tukang sapu? Kenapa  kami tidak berhak mendapatkan perlakuan yang sama? Apakah kami bukan warga bapak? Lalu kenapa kami juga ikut melakukan pilkada dan menusuk kertas dengan paku yang bergambakan foto Bapak?
Apakah kami hanya akan menonton keberhasilan Anak-anak dan Kemenakan-kemenakan bapak? Padahal kami sendiri sudah memilih bapak untuk memperbaiki nasib kami, nasib daerah kami dan nasib bangsa kami. bagaimana mungkin kerabat-kerabat yang mempunyai hubungan dengan petinggi- petinggi masih mendapatkan bantuan, masih mendapatkan beasisawa dan mendapatkan fasilitas dari pemerintah. Bukan kah itu hak masyarakat miskin, haknya para anak yatim, hak nya para lansia dan orang cacat.
Kami tidak punya relasi dengan keluarga Bapak, kami tidak punya relasi dengan Kemenakan bapak. Tapi kami hanya punya tali pengharapan. Harapan yang kami gantungkan kepada Bapak agar dapat menarik tali itu sampai ke cita cita bangsa ini.
Bukan kah anak yang bekerja sebagai petani tetaplah anak Ayah? Bukankah anak yang bekerja sebagai tukang sapu tetaplah anak Ayah?  lalu kenapa anak yang bekerja sebagai dokter lebih diutamakan, lebih diharagai dan lebih diistimewakan?
Lihat lah kami para penakluk badai dilautan yang menerjang ombak untuk mendapatkan ikan. Kami butuh kapal dan jala untuk menangkap ikan. Lihat lah kami para penanam ajaib yang menghasil kan pangan untuk rakyat. Kami butuh bibit dan bajak. Lalu kemana anggaran-anggaran yang sudah dicanangkan untuk para nelayan dan petani? Kami tidak butuh jawaban. Karena kami hnya butuh hak dan fasilitas dari pemerintah.
Kami ingin pemimpin yang adil dan tidak kenal nepotisme. Kemana sumpah yang diucapakan dengan lidah seseorang yang akan mendapatkan jabatan direalisasikan?
Jika pemimpin tidak memberikan keadilan bagaimana mungkin masyarakat akan bersatu untuk memperbaiki nasib bangsa ini. Mungkin mereka hanya akan bersatu ketika melakukan demo-demo dan pemberontakan dimana-mana. Merobohkan gedung, merusak pagar dan membakar foto para pemimpin.
“Suatu ketika Kalifah Umar pada masa kepemmpinannya, umar  mematikan lampu di malam hari saat  anak beliau  menemuinya untuk urusan pribadi diruang kerja negara, itu dilakukan demi menjaga fasilitas negara”.
 Kami tidak meminta bapak untuk melakukan hal itu. Kami minta hidupkan semua lampu-lampunya untuk anak dan masyarakat bapak. Hidupkan lampu itu agar menghasilkan cahaya yang akan menerangi keterpurukan dan kegelapan kami. agar kami dapat bangkit dan memperjuangkan nasib kami bersama pemimpin yang adil, yang menutamakan kepentingan rakyat.
Kami tau pemimpin bukan Malaikat atau Dewa. Tapi pemimpin dapat memberikan yang terbaik dan mencatat dalam hatinya hal-hal yang akan ditargetkan untuk kepentingan masyaratnya.
Masyarakat ingin pemimpin yang ideal, yaitu pemimpin yang adil. Pemimpin yang pintar dan cepat bertindak ketida kondisi dan keadaan rakyat sangat membutuhkannya. Dan yang jelas bukan pemimpin yang nepotisme atau pemimpin yang mendahulukan kepentinya keluarga dibandingkan kepentingan masyarakat.

 Dengarlah  jeritan hati kami! jeritan hati anak-anak yatim, jeritan hati kami anak- anak miskin dari keluarga petani, jeritan kami mahasiswa yang sedang menyuarakan suara rakyat namun butuh didengar, butuh tanggapan. Sekali lagi  jeritan hati kami yang bukan dari “KERABAT” Bapak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar