“JATAH!!! PERTALIAN DARAH???”
Jika pemimpin diibaratkan
sebagai seorang Ayah, pantasnya seorang
Ayah akan melindungi, menjaga, memberikan kasih sayang, mencukupi
kebutuhan dan mengarahkan semua anak-anaknya. Apakah anak itu seorang
terpelajar atau pun tidak. Apakah anak itu seorang petani, dokter maupun tukang
sapu. Mereka semua tetaplah anak dari seorang Ayah yang butuh perhatian yang
adil seperti saudara- saudaranya yang lain. Begitupun dengan seorang Pemimpin atau
Gubernur. Seorang Pemimpin hendaknya memberikan perhatian yang sama kepada setiap
warganya. Apakah warganya sanak saudara Gubernur, orang terpandang, orang
terdidik, orang yang tidak mengenal pendidikan maupun orang yang bekerja
dibawah kaki tangan Pak Gubernur.
lalu
kenapa pak Gubernur? Kenapa derah yang cepat ditangani adalah
kampung halaman Bapak. Jika jalan dikampung kami sudah berpotensi menyebabkan
kecelakaan akibat lubang yang begitu berbahaya belum di rencanakan anggarannya
apalagi diperbaiki, kenapa kampung bapak masih terus dipoles dan diberikan
kesan kemewahan. Apakah daerah kami yang terpelosok bukan termasuk daerah
kepemimpinan Bapak? Lalu kenapa didaerah kami juga melakukan Pilkada?
Jika Anak,
Saudara, Cucu, Kemenakan, dan Kerabat Bapak diberikan kemudahan untuk
mendapatkan fasilitas pendidikan, dimudah kan masuk keperguruan tinggi serta
kemudahan mendapat pekerjaan. Lalu bagaimana dengan kami anak petani, bagaimana
dengan kami anak pemulung yang membantu orang tua mencari sampah rakyat ketika
pulang sekolah, bagaimana dengan kami anak tukang sapu? Kenapa kami tidak berhak mendapatkan perlakuan yang
sama? Apakah kami bukan warga bapak? Lalu kenapa kami juga ikut melakukan
pilkada dan menusuk kertas dengan paku yang bergambakan foto Bapak?
Apakah
kami hanya akan menonton keberhasilan Anak-anak dan Kemenakan-kemenakan bapak? Padahal
kami sendiri sudah memilih bapak untuk memperbaiki nasib kami, nasib daerah
kami dan nasib bangsa kami. bagaimana mungkin kerabat-kerabat yang mempunyai
hubungan dengan petinggi- petinggi masih mendapatkan bantuan, masih mendapatkan
beasisawa dan mendapatkan fasilitas dari pemerintah. Bukan kah itu hak
masyarakat miskin, haknya para anak yatim, hak nya para lansia dan orang cacat.
Kami
tidak punya relasi dengan keluarga Bapak, kami tidak punya relasi dengan Kemenakan
bapak. Tapi kami hanya punya tali pengharapan. Harapan yang kami gantungkan
kepada Bapak agar dapat menarik tali itu sampai ke cita cita bangsa ini.
Bukan
kah anak yang bekerja sebagai petani tetaplah anak Ayah? Bukankah anak yang
bekerja sebagai tukang sapu tetaplah anak Ayah?
lalu kenapa anak yang bekerja sebagai dokter lebih diutamakan, lebih
diharagai dan lebih diistimewakan?
Lihat
lah kami para penakluk badai dilautan yang menerjang ombak untuk mendapatkan
ikan. Kami butuh kapal dan jala untuk menangkap ikan. Lihat lah kami para
penanam ajaib yang menghasil kan pangan untuk rakyat. Kami butuh bibit dan
bajak. Lalu kemana anggaran-anggaran yang sudah dicanangkan untuk para nelayan
dan petani? Kami tidak butuh jawaban. Karena kami hnya butuh hak dan fasilitas
dari pemerintah.
Kami
ingin pemimpin yang adil dan tidak kenal nepotisme. Kemana sumpah yang
diucapakan dengan lidah seseorang yang akan mendapatkan jabatan direalisasikan?
Jika
pemimpin tidak memberikan keadilan bagaimana mungkin masyarakat akan bersatu
untuk memperbaiki nasib bangsa ini. Mungkin mereka hanya akan bersatu ketika
melakukan demo-demo dan pemberontakan dimana-mana. Merobohkan gedung, merusak
pagar dan membakar foto para pemimpin.
“Suatu
ketika Kalifah Umar pada masa kepemmpinannya, umar mematikan lampu di malam hari saat anak beliau
menemuinya untuk urusan pribadi diruang kerja negara, itu dilakukan demi
menjaga fasilitas negara”.
Kami tidak meminta bapak untuk melakukan hal
itu. Kami minta hidupkan semua lampu-lampunya untuk anak dan masyarakat bapak.
Hidupkan lampu itu agar menghasilkan cahaya yang akan menerangi keterpurukan
dan kegelapan kami. agar kami dapat bangkit dan memperjuangkan nasib kami
bersama pemimpin yang adil, yang menutamakan kepentingan rakyat.
Kami
tau pemimpin bukan Malaikat atau Dewa. Tapi pemimpin dapat memberikan yang
terbaik dan mencatat dalam hatinya hal-hal yang akan ditargetkan untuk
kepentingan masyaratnya.
Masyarakat
ingin pemimpin yang ideal, yaitu pemimpin yang adil. Pemimpin yang pintar dan
cepat bertindak ketida kondisi dan keadaan rakyat sangat membutuhkannya. Dan
yang jelas bukan pemimpin yang nepotisme atau pemimpin yang mendahulukan kepentinya
keluarga dibandingkan kepentingan masyarakat.
Dengarlah jeritan hati kami! jeritan hati anak-anak
yatim, jeritan hati kami anak- anak miskin dari keluarga petani, jeritan kami
mahasiswa yang sedang menyuarakan suara rakyat namun butuh didengar, butuh
tanggapan. Sekali lagi jeritan hati kami
yang bukan dari “KERABAT” Bapak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar