Rabu, 26 Oktober 2016

WIRAUSAHA MUDA KEMBANG BIAKKAN KELINCI HINGGA RATUSAN EKOR
Muda dan Usaha adalah dua unsur yang sangat cocok untuk dikombinasikan. Muda bagi saya sangat identik dengan kobaran semangatnya, jiwa mudanya serta lahirnya kreasi dan inovasi baru. Sedangkan jika mendengar kata usaha jadi teringat karya-karyanya  dan keuntungan usahanya. Lahirlah hasil kombinasi tersebut dengan kalimat  “Berwirausaha diusia muda”. Menjalani usaha diusia muda, saya berani mengatakan kalau tidak sulit menjalaninya. Tentunya bagi muda-mudi yang mempunyai semangat tinggi. Kerja keras, fokus dan bersabar adalah salah satu kuncinya. Dengan usia muda sangat mudah untuk memulai sesuatu termasuk berwirausaha. Ini saya buktikan ketika memulai usaha beternak kelinci pada waktu kelas satu SMA. Beternak kelinci salah satu rutinitas saya setelah belajar. Awalnya kepikiran untuk kerja sampingan ditoko atau rumah makan. Maklumlah, untuk anak SMA saya pikir waktu itu memang pantas untuk sekedar menjaga toko atau mencuci piring di rumah makan. Tiba-tiba saya  ingat kata-kata pada sebuah buku “Kalau bisa membangun dan memajukan perusahaan sendiri kenapa harus memajukan perusahaan orang lain?” kalimat itu sangat menyindir saya yang waktu itu masih 16 tahun sekaligus memotivasi diri untuk mencoba berwirausaha. Akhirnya target saya untuk menjadi enterprenur sukses diusia 30-an saya majukan menjadi usia 20-an.



Kelinci hewan yang sangat saya senangi. Awalnya hanya punya sepasang kelinci biasa. Setelah melihat kondisi kampung yang rata-rata masyarakatnya adalah petani, saya kepikiran untuk memanfaatkan sisa-sisa sayuran untuk makanan kelinci. Akhirnya kelinci yang awalnya sepasang, satu ekor betina satu ekor jantan saya beli lagi 5 ekor betina dan satu ekor jantan. Uang beli induk kelincinya sih dari pecahan celengan ayam. Harga 6 induk kelinci waktu itu Rp. 500.000. Uang dicelengan hanya Rp. 300.000. Sisanya minta sama Ibu. Jadilah waktu itu 8 ekor kelinci, 6 ekor  kelinci betina dan 2 ekor kelinci jantan. Untuk kandangnya minta dibuatkan sama Bapak. Satu hari penuh Bapak menyelesaikan 6 kotak kandang untuk sang kelinci. Dengan melihat peluang dan kemauan saya mulai berwirausaha. Keesokan harinya dihidup saya tak hanya ada Ibu dan Bapak tapi satu lagi kelinci (hehe alay).  Satu hal yang terbesit dalam pikiran saya waktu itu, “kenapa kita hanya selalu menjadi pembeli. Karena setiap kita membeli, berarti kita menikmati karya-karya orang lain. Menikmati kreatifitas orang lain. Bukankah kita juga bisa berkarya dan menghasilkan seperti mereka? agar karya kita juga dinikmati”.
Replay lagi ke bahasan kampung saya yang mayoritas petani tadi (termasuk Ibu dan Bapak), saya manfaatkan makanan kelinci dari sisa-sisa panen. Seperti sayuran tua yang tidak dipanen lagi, kecambah  ubi jalar  dan  sisa-sisa kol  yang tidak dipetik petani. Melalui pemanfaatan tersebut tidak perlu keluar modal  untuk beli makanannya. Modalnya cukup untuk membeli induk kelinci dan membuat kandang.
Sepulang sekolah, setelah selesai makan dan shalat saya habiskan waktu unutk merawat kelinci, mulai dari mencari makanannya, membersihkan kandang dan memberi obat serta suntikan supaya kelinci cepat besar dan bertambah sehat.
Ternyata benar, kobaran semangat muda lebih garang. Usaha Muda tampak segar walaupun yang tua belum tentu lapuk. Setengah hari yang saya habiskan untuk merawat kelinci jadi tidak terasa. Mungkin didukung juga dengan fisik yang bugar dan fikiran nan segar. Saya tidak merasa berbisnis tetapi merasa mengembangkan hobi. Karena kegemaran dan kesenangan saya terhadap kelinci. Saya jadi membuktikan pekerjaan yang paling senang adalah mengerjakan hobi. Walaupun ketika berwirausaha pasti ada maju mundur, jatuh bangun dan untung ruginya. Termasuk saya, ketika beternak juga kadang mengalami hambatan seperti ada kelinci yang sakit bahkan ada yang mati. disitulah kesabaran saya diuji Yang Kuasa. “Tapi itulah jiwa muda saya ketika berwirausaha, jatuh sekali bangkit seribu kali. Ketika muda, diinilah kita bisa belajar dan terus mencoba. Ketika jatuh bangkit lagi. Jatuh lagi, kita masih punya stok semangat untuk bangkit lagi. Jika memang kita akan berhasil nantinya diusia tua, setidaknya persiapannya diusia muda. Tapi jika baru memulai usaha diusia tua, kalau belum punya pengalaman dan kepandaian, kapan akan belajarnya dan kapan suksesnya?”  walaupun juga ada usia tua yang mulai belajar bahkan berhasil, setidaknya untuk para pemuda-pemudi berusahalah dan berwirausahalah sekarang.
Dua bulan setelah beternak kelinci, akhirnya anak-anak kelinci yang sangat imut dan lucu bermunculan kemuka bumi (hehe alay lagi). Sebulan setelahnya anak-anaknya sudah bisa dijual dengan harga Rp. 25.000 per ekor. Dari 6 ekor kelinci betina 4 ekor menghasilkan anak yang kalau dijumlahkan sebanyak 19 ekor, satu induk kelinci sakit dan satu ekor lagi sepertinya mandul. Kalau dikalikan, 3 bulan setelah membuat kandang 10  ekor  anak kelinci seharga Rp. 250.000 berhasil dijual. 9 ekor anak kelinci lagi saya jadikan bibit untuk induk kelinci. 2 bulan setelahnya lagi saya berhasil lagi menjual anaknya seharga Rp. 250.000. Lima  bulan setelah pembuatan kandang saya sudah berhasil memulangkan modal. Kalau dalam bahasa ekonominya BEP yaitu break event point (ciee pakai bahasa ekonomi segala). O ya saya lupa cerita kalau sekarang saya kuliah jurusan ekonomi disalah satu perguruan tinggi yang ada dipadang (Universitas Negeri Padang). Akhirnya Uang ibu yang dipinjam Rp. 200.000 dikembalikan lagi.
Kelas 2 SMA saya tidak pernah minta uang lagi kepada orang tua. Malah kadang-kadang saya yang ngasih ibu buat belanja (bukan pamer yaa). Disaat teman-teman yang lain sibuk belajar, organisasi, facebookan, ngegems dan lain-lain saya malah sibuk merawat kelinci dan keladang sambil membawa karung mencari sisa-sisa panen sayuran petani untuk makanan sang kelinci. Saya merasa semua itu bukan beban hanya rutinaitas biasa yang menyenangkan dan tidak membosankan.
Selain mengasah kemampuan dan mendapat pengalaman, bisnis kelinci juga bisa mendapat keuntungan alias uang. Sejak saat itu saya bisa beli buku, tas, sepatu bahkan HP dengan hasil keringat sendiri. Saya bersyukur. Karena ketika sukses berwirausaha, disitulah rasa syukur kita diuji. Sangat banyak pelajaran yang kita ambil melalui wirausaha.
Satu hal lagi yang saya buktikan adalah pintu yang banyak dibukakan untuk rezeki adalah perdagangan. Bahkan junjungan umat islam sekalipun nabi Muhammad SAW dan sahabat juga membuka pintu rezekinya dengan berdagang. Diindonesia bahkan didunia sekalipun, orang terkayanya adalah pengusaha. Lantas, kenapa kita yang jiwa muda belum juga untuk memulainya?
Replay lagi ke bahasan saya mengenai kepandaian melihat peluang. saya ingin menghubungkannya dengan penjual sate ayam yang sering lewat didepan rumah. Loh apa hubungannya melihat peluang dengan penjual sate ayam? Jadi ngini,  penjual sate ayam itu setiap sore sering dinantikan warga disimpang empat dekat polindes yang ada dikampung. Komentar warga terhadap sate ayam itu sangat enak dan maknyus, saya pun mengakuinya. Penjual sate berkeliling setiap sore, banyak warga yang tidak kebagian karena sudah habis sebelum sampai ke depan rumah mereka. Jadi yang kebagian membeli ialah warga yang cepat. Siapa yang cepat ia dapat. Akhirnya warga yang nekat memutuskan untuk antri didepan polindes tempat pertama yang dilalui penjual sate ayam. Berarti sate ayamnya limited kan? Warga mengantri agar kebagian memebeli sate (ini bukan berlebihan guys, satenya memang maknyus bangeeeet).

Disitulah saya melihat peluang. saya  ingin membantu penjual sate untuk memenuhi kebutuhan warga. Namun dengan tawaran yang berbeda yaitu sate kelinci. Selain bahan bakunya dari ternak kelinci sendiri, saya tertarik untuk membuat sate, karena daging kelinci lebih sehat, rendah lemak dan rendah rendah kolesterol dibandingkan daging ayam dan daging sapi.
Ketika warga menjadi pembeli yang baik dan sigap, saya ingin menjadi produsen yang baik dan mampu melihat peluang. karena menurut saya “Jangan hanya jadi pendengar yang baik, tapi jadilah pembicara yang baik. Jangan hanya jadi pembaca yang baik, tapi jadilah penulis yang baik. Jangan hanya jadi pembeli yang baik, tapi jadilah produsen yang baik”. Karena sejatinya pendengar, pembaca dan pembeli hanya penikmat bukan pencipta. Namun ketika kita sudah menjadi pendengar, pembaca dan pembeli disitulah kita bisa mengahargainya. Karena tanpa pendengar tidak akan ada pembicara yang sukses. Tanpa pembaca tidak akan ada penulis yang sukses. Tanpa pembeli tidak akan ada produsen yang sukses (hehe sekedar motivasi guys). 
O ya balik lagi kesate kelincinya, jadi saya merekomendasikan bapak untuk menjual sate kelinci. Singkat cerita Bapak akhirnya menjual sate kelinci dan vacum sementara waktu keladang. Walaupun awalnya sate kelinci Bapak tidak seenak sate ayam yang lewat didepan rumah. Namun setelah beberapa bulan kedepan sate kelinci bapak tidak kalah dengan sate ayam, pelanggannya pun juga sudah bisa dikatakan banyak untuk penjual sate pemula. Saya anak bapak beternak kelinci dan bapak  kebawa-bawa jadi penjual sate kelinci. Berkah dagangan. Satu pintu rezeki dibuka lagi untuk bapak melalui perdagangan. Untuk Bapak, utamakan konsumen. Berikan apa yang diinginkan konsumen, bukan yang mampu dilakukan produsen.
Pada kelas tiga, kelinci saya sudah ratusan. Tentunya semua itu dibantu oleh manusia-manusia perkasa disamping saya. Yaitu Ibu dan Bapak. Jika ada yang mengatakan “Jangan hanya melihat orang diatas kita, namun lihat juga orang dibawah kita. Tapi saya mengatakan “Jangan hanya lihat orang dibawah dan diatas kita, tapi lihat juga orang disamping kita”.  Orang yang membatu kesuksessan dan selalu menemani.  “Bantu orang yang dibawah kita. Amati dan ambil pelajaran dari orang diatas kita. Kenang dan hargailah orang disamping kita”.
Kelinci yang saya rawat sekian lama menjadi ratusan ekor. Dalam satu bulan saya bisa menjual lebih dari 150 ekor kelinci. banyak yang menyangka itu bisnis orang tua saya. Padahal saya yang menjalankannya. Jadi nggak ada yang mustahilkan kita yang belasan tahun sudah bisa berwirausaha. Bahkan saya kesulitan tempat untuk membuat kandang. Akhirnya kandangnya saya buat bertingkat. Sekarang kelinci itu kini saya titipkan kepada ibu unutk merawatnya, karena saya sedang kuliah dipadang. Tapi saya tetap merawat kelinci dengan cara pulang kampung dalam seminggu sekali atau sekali dalam 2 minggu. Berkat bisnis kelinci ini saya bisa masuk perguruan tinggi idaman dan bisa bayar uang kuliah sendiri. Jika waktu itu saya belum memulainya, mungkin sekarang saya masih belajar dan mencari kepandaian untuk berwirausaha.
Unutk teman-teman yang mau mencoba bisnis ternak kelinci, ini ada beberapa tips untuk memulai ternak kelincinya agar sukses dan berkembang dengan cepat :
1.      Motivasi dulu diri untuk berwirausaha
Kuatkan tekad. Ingat lebih baik membangun perusahaan sendiri dari pada membangun dan memajukan perusahaan orang lain. Ancang-ancang target yang akan dicapai dan tujuan yang akan diraih. Lalu, dengan pikiran yang matang mulai sekarang tanpa pikir panjang.
2.      Membuat kandang
Buat kandang yang nyaman untuk kelinci. kandangnya harus kuat dan tahan dari binatang lain seperti anjing. Karena kandang yang tidak kuat akan akan mudah dikoyak anjing dan binatang lainnya. Kandang kelinci harus bersih, kalau tidak kelinci bisa terserang berbagai macam penyakit.
3.      Memilih bibit kelinci.
Cari bibit yang bagus. Tanya sama orang yang sudah berpengalaman. Untuk pemula teman-teman bisa membelinya beberapa ekor dulu.
4.      Merawat kelinci
Merawat kelinci mulai dari memberi makanan dan minumannya. Memberikan obat dan menyuntiknya jika perlu. Membersihkan kandangnya, termasuk membersihkan kelinci.
5.      Pengembang biakan
Untuk mengembang biakkan kelinci, adu kelinci jantan dan betina. Tempatkan dalam satu kandang. Beberapa hari kemudian, setelah kelinci betina mengandung pisahkan dengan kelinci jantan. Sebulan setelahnya kelinci betina akan melahirkan.
6.      Pemeliharaan anak
Anak kelinci yang baru lahir dimasukkan kedalam kotak kecil. Biarkan anak kelinci satu kandang dengan induknya. Karena anak kelinci akan terus menyusui dengan induknnya. Tiga minggu setelahnya teman-teman bisa menjual anaknya dan menikmati hasilnya.
Sangat mudahkan guys untuk beternak kelinci. Untuk teman-teman yang sedang sekolah atau kuliah juga bisa melakukannya. Kalian tidak dihabiskan banyak waktu untuk merawatnya. Hasilnyapun juga memuaskan. Bayangkan kalau induk kelincinya sudah ratusan ekor. Berapa anak yang dihasilkannya. Satu ekor induk kelinci betina bisa melahirkan 8 ekor anak kelinci. bayangkan kalau 100 ekor kelinci dikalikan dengan 8 ekor anaknya dikalikan lagi dengan harga perekor anaknya. Sudah berapa tuh guys uangnya?
Untuk para pemuda-pemudi ayo bangkitkan jiwa wirausahamu. Raga dan fikiranmu bahkan mendukungmu untuk melakukan itu. tidak sulit kok untuk memulainya. Kalaupun tidak punya modal besar, kalian bisa memulainya dengan modal kecil. Ya bisa didapat dari celengan, tabungan, pinjam sama orang tua atau pinjam sama teman. kalau nggak mau pinjam kalian juga bisa jadi reseller dulu. Pokoknya tidak menyulitkan  deh. Kita tidak harus serta merta menjalankan usaha 24 jam dalam sehari. Sambil sekolah, kuliah atau bekerja juga boleh. Karena berwirausaha waktunya fleksibel. Bisa mengatur waktu sendiri dan jadi bos diperusahaan sendiri. Asal ada kemauan dan bergerak sekarang juga.
“Melalu wirausaha kita bisa membantu pemerintah untuk membangun negeri ini. Karena orang miskin dan pengangguran terus bermunculan tampa henti. Ayo tunjukkan kreasi. Agar muda-muda masa kini jadi manusia yang berarti”.
Sejatinya melalui enterprenur kita bisa membantu, mencari, menunjukkan ekspresi bahkan berdakwah. Mari kita tingkatkan jumlah pengusaha indonesia yang sekarang baru 1,65 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

#ralalib2bmarketplace
#sumpahpemuda

2 komentar:

  1. Wah salut banget pokonya, beternak itu kan tidak mudah, apalagi jika dilakukan oleh seorang perempuan. Tapi nyatanya sudah dibuktikan oleh Mbak Mela,dan bisa bayar kuliah sendiri. Pokonya salut banget deh, sukses selalu beternak kelincinya ^_^

    BalasHapus